Wednesday, 30 November 2016

Kubu Pertama

 gambar dari: http:wwf.panda.org

Daerah eks Kolonisasi Hindia Belanda tahun 1938. Orang kota (Lubuklinggau) menyebut daerah ini Merasi. Berdasarkan dulunya daerah ini adalah daerah Transmigrasi.

Musi Rawas. Kini, kabupaten ini dihuni oleh dua etnis dominan: Melayu dan Jawa sebagai eks keturunan Tarnsmigran: mereka menyebut diri mereka Pujakesuma: Putra Jawa Kelahiran Sumatera. Sedangkan Suku Kubu menjadi minoritas berdasarkan dari jumlah. Disini ada enam bahasa sebagai alat komuniasi antar warga. Termasuk bahasa Jawa. Jadi, kami yang Jawa sudah biasa dengan bahasa orang Ndusun (melayu), pun sebaliknya. 

Tentang Suku Kubu: Dalam berbagai literatur. Orang Kubu sudah sangat terkenal. Tapi sayangnya, kepopuleran Orang Kubu tidak berbading lurus dengan nasib mereka sekarang. Mereka semakin terpojok dan terpinggirkan. Sedangkan orang yang lebih berbudaya menikmati hasil perkebunan sawit dan karet. Lebih-lebih PT. X, Y, Z yang selalu haus akan perluasan lahan dengan cara yang sama: mengikis hutan.

Saya mengenal Orang Kubu dari lisan para orang tua disini. 

Cerita tentang mistik mereka cukup ditakuti. Jadi, untuk bisa dekat dengan Orang Kubu dibutuhkan keberanian yang tidak biasa. Konon: Orang Kubu itu mudah marah dan memiliki berbagai macam ilmu gaib. 

"Jangan meludah di adapan Wong Kubu kalu dendak milu die." (jangan meludah di hadapan Suku Kubu kalau tidak kau akan jadi pengikutnya).

Begitu ujar teman Melayu saya. Menurut orang yang lebih berbudaya: Orang Kubu itu bau prengus, bahkan ada yang bilang mereka itu ayam hutan. Saya paham. Begitulah tingkah mayoritas bukan?

Tapi percaya atau tidak, gulungan tembakau, akan sedikit membantu jika kata-kata tak bisa lagi digunakan untuk saling memahami. Tak percaya? Iger: lelaki suku Kubu pertama yang saya kenal setelah lima tahun saya disini.

Ya, diawali dengan nglepus bersama, ahirnya saya dan Iger bisa saling bicara, dari hati ke hati, saya mulai bertanya soal rimba, saya lanjut cerita tentang nenek moyang saya, dan Iger berkisah tentang nenek moyangnya yang merawat rimba sedari Indonesia itu belum ada. 

Menarik: dia orang Suku Kubu. Yang dulu hidup berpindah-pindah dari rimba ke rimba. Kini Iger tinggal di rumah panggung kayu yang dibuatkan oleh Dinas Sosial. Kadang Iger tinggal sementara di tengah perkebunan sawit milik PT. X meski di cap menggangu oleh perusahaan. Pada musim buah-buahan Iger jauh masuk ke tengah rimba. Ia hidup bersama anak istri dan beberapa saudaranya yang berasal dari satu keluarga.

Iger sendiri tak tahu tanggal lahirnya. Maklum: lahir di tengah rimba. Kira-kira saja kini berumur 45 tahun. Anaknya sudah empat. Dua laki-laki, dua permpuan. Anak laki-laki pertamanya meninggal dunia sewaktu masih bayi. Katanya, jika anak pertamanya masih hidup. Ia seumuran dengan saya.

Diawali basa-basi, sampai ke inti, saya tanya soal kasus-kasus pengalihan fungsi hutan alam menjadi hutan produksi. 

 “Lahan sapo nak ko olah? Kalau memang iyo hutan ini milik ninik mamak, cubo tunjukkan sejak bilo dio tinggal dihutan menjaga hutan ko?”

(Lahan siapa yang akan kau garap? Kalau memang iya hutan ini milik nenek moyangmu, coba tunjukan sejak kapan dia tinggal di hutan dan menjaga hutan ini?)

Ternyata benar, bukan jarak dan perbedaan tempat yang memisahkan, melainkan diam tak peduli dan ke-tidak terbuka-an. Atau memang sudah takdir: mayoritas itu begini - minoritas itu begitu. Yang berduit begini - yang tidak punya uang begitu. Yang…. Asudahlah.

Sesaat kami ada dalam keheningan. Merenungi hutan semakin hari semakin sempit. Dulu hutan adalah tempat bergantung Orang Kubu: mencari makanan, berburu babi hutan, mencari ikan disungai, sampai mencari obat. Semua kebutuhan mereka tersedia di alam. Kini, melakukan itu semua menjadi semakin sulit.

Hampir setiap jengkal tanah rimba ini pernah dijejaki Iger bersama Ninik-Mamak-nya. Hanya, jangan tanya soal hak kepemilikan. Boro-boro sertifikat tanah, apalagi rumah permanen dan vila di tengah hutan. Soal tempat berteduh, Iger cukup membuatnya sendiri dengan lembaran daun-daun dan ranting kayu, kadang juga terpal: Orang Kubu menyebutnya Sudong.

Dulu, Orang Kubu memakai kulit kayu sebagai pakaian. Biasa membawa panah, mandau dan tombak. Sekarang sudah banyak yang berpakaian seperti halnya warga biasa, sekarang mereka juga lebih sering menenteng Kecepek: senjata api rakitan untuk berburu babi. 

Cara jalan Orang Kubu cepat dan gesit: ketika sedang berjalan, kakinya berjingkat-jingkat, kedua telapak kakinya menghadap kedalam dan betisnya membentuk hurup O. 

Seiring perkembangan jaman. Pemerintah mengadakan program relokasi. Tujuannya menarik komunitas Orang Kubu dari dalam hutan. Dibuatkan rumah panggung dan ditempatkan dekat dengan desa. 

Kondisi Orang Kubu memang sudah banyak berubah: tapi bukan dalam arti ekonomi dan sosial budaya. Jangankan bersaing. Mereka masih sulit bergaul dengan suku-suku lainnya dikarenakan hidupnya yang masih suka berpindah-pindah. Memang sudah ada yang hidup menetap layaknya masyarakat pada umumnya. Namun sebagian besar masih bergantung pada alam sebagai tumpuan hidup.

Mereka juga mulai bertani sebagai cara bertahan hidup manakala makanan sudah susah dicari dihutan. Sesekali Iger berusaha menjualnya. Tapi apa daya. Hasil pertanian Orang Kubu tak diminati warga yang (katanya) lebih berbudaya.

Sekali lagi. Kata Iger. Mereka hanya ingin sedikit ruang hidup di hutan. Demi melanjutkan kehidupan. Sama seperti kita. Yang mengagungkan agama dan kebudayaan. Iger juga ingin buadayanya di hormati. Mereka juga berharap keturunannya mendapatkan kehidupan yang lebih layak sama juga seperti kita. 

Hidup memang terlihat kejam. Tapi terkadang, kita harus mau mengakui bahwa itu semua adalah peringatan dari Tuhan untuk yang merasa berbudaya agar mengerti arti kepedulian: terhadap sesama, pun terhadap alam yang sudah banyak memberi tanpa pernah meminta imbalan.

Sejak ngobrol dengan Kubu pertama. Saya dan Iger tak lagi pernah bertemu.

0 komentar:

Post a Comment