Thursday, 20 October 2016

SIM dan Sebatang Rokok


“Mana Sim…?!”

“Mau ke pasar pak…”

“Loh, saya nggak nanya!!!” Ujar petugas. Matanya melotot. Begitulah, kalau tidak garang, jangan harap bisa jadi petugas lapangan, Peduli setan. Aturan harus tetap ditegakkan!

“Kalau begitu, ikut saya ke pos di perempatan sana” 

Telunjuknya menunjuk ke satu arah yang jauh, sekurang-kurangnya setengah kilo meter - kacamata hitam dari sosok tegap tapi agak gendut itu ala koboy.

Kosim melihat lurus searah tangan Petugas yang menunjukinya, Kosim memicingkan matanya – matanya mengecil, melawan sorot sinar matahari yang tepat diatas kelapanya.
 
Tanpa basa-basi Petugas langsung menarik kontak motor Kosim yang masih menggantung dan memasukannya ke kantong celananya yang ketat itu.

“Ojo ngono Pak, motorkukan dudu le maling?”

Meski tak PD, Kosim sempatkan diri untuk melawan, meski dihatinya, dia percaya – hanya uang merah dan Tuhan yang dapat menolongnya, itupun kalau Tuhan masih ada!

Keringat dingin keluar perlahan, telapak tanganya lembab, basah, tubuhnya gemetar, clingak-clinguk, setiap muka pejalan kaki yang kebetulan lewat menatapnya. Entah kasihan, atau bagaimana. 

Kosim menundukan wajahnya sambil sesekali mendongakkan kepala, matahari yang terik, kemudian kembali menuduk menatapi aspal yang ditapakinya. 

“Sudah, saya tunggu di Pos…!”

Petugas memutar kontak motornya, tengok kanan kiri, melajulah Yamaha XJ900 P itu meninggalkan Kosim dan motornya. Tanpa kunci kontak.

Dengan langkah gontai Kosim mendorong motornya, setelah kira-kira 50 Meter berjalan Kosim berhenti di sebuah bengkel tambal Ban untuk numpang berteduh. Kemudian dia merogoh kantong, didapatinya rokok kretek masih dua batang – juga permen Kiss. 

“Saya tidak lagi mau tambal ban pak, saya cuma numpang berteduh sebentar” kata kosim pada seseorang yang sedang duduk diatas ban bekas yang sedang membaca Koran bekas itu.

“Aku ngerti le, kena tilang piro le?” Tanya pak tua itu.

“Tadi hitung-gitungan kurang lebih saya kena denda 350 ribu rupiah, kalau tidak bayar, motor saya katanya akan ditahan, padahal sekarang saya sepeserpun tak ada uang – sebab helm saya katanya bukan hem standar, saya juga lupa bawa STNK, SIM saya belum buat” kata Kosim memelas.

“kalau lupa STNK itu salahmu, lah kalau SIM itu kan gampang buatnya, tinggal ke SAMSAT bayar, selesai urusan, kamu aman.”

“Iya pak”. Kosim sambil menawarkan sebatang rokok pada pak tua berjenggot putih itu yang kelihatanya juga perokok. Kosim melanjutkan bicaranya.

“Dulu saya pernah coba buat SIM, kalau gak salah ongkosnya 75 ribu, tapi setelah beberapa kali mencoba, saya tetap gagal, kemudian saya disarankan untuk nembak saja biar cepet, cuma 350 ribu - kata petugasnya, itu cukup murah, saya disuruh membayangkan kalau 35o ribu itu di bagi 5 tahun atau 1.825 hari, berarti biayanya cukup murah, sehari saya cukup bayar gak lebih dari 200 rupiah”

Sambil mendengarkan Kosim cerita, Pak tua itupun tidak menolak tawaran Kosim. Dinyalakanya sebatang rokok itu sambil ia melanjutkan bicaranya.

“lah, kenapa kamu dulu gak mau, gak punya uang?”

“enggak pak, cuma hati kecil saya tidak bisa menerima saja, lah wong di dinding kantor bapak-bapak petugas itu jelas-jelas ada tulisan, JANGAN PENGARUHI KAMI UNTUK MELAKUKAN PUNGLI jeh” terang Kosim.

“lah terus?” pak tua penasaran.

“dosa saya sudah banyak, saya takut nambah dosa pak”

“lah bukanya itu sudah umum?” ujar pak tua. 

Kosim diam. Pak tua itupun terlihat enggan berdebat dan paham maksud pria muda yang duduk di depannya itu.

“Lalu apa yang membuatmu mau disuruh ke pos, kan motornya ada di kamu”

“kontak motor ini diambil petugas pak”

“Cuma kontak to?” pak tua tukang tambal ban itu pensaran.

“iya?!”

Kemudian sambil tertatih pak tua berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati sebuah kotak kayu setinggi tak lebih dari setengah meter, dibukanya kotak itu, disana sembarang kuci ada, berserak, dari kunci inggris kunci pas, grenda kecil kunci T dan lain-lain. Kemudian diambilnya sebuah pisau kecil dari dalamnya.

Tanpa basa-basi pak tua itu memasukan bilah runcing itu ke lubang kontak motor si Kosim. Kemudian diputarnya. “Krekk…” kemudian, di engkolnya motor Kosim. Motor sudah hidup.
“sekarang pergilah, sebelum petugas itu menuju kemari” kata pak tua menyuruh.

Hati Kosim plong, lega. Kemudian dengan sigap Kosim menuruti perintah pak tua tukang tambal ban itu.

Kosim melajukan motornya sampai-sampai ia lupa bilang terima kasih. Iapun ingin memutar balik, kemudian ia menengok kebelakang, smar-samar dari atas motornya ia melihat pak tua tukang tambal ban tadi melambaikan tangannya. 

Tapi lamabat laun, ia baru sadar, bahwa gubug yang ia singgahi tadi adalah sebatang pohon besar di tepi sawah. Disana ada sebuah makam tua. Kosim merinding, ia laju motor sekencang-kencangnya. Takutnya bukan kepalang. 

Setelah sampai rumah Kosim duduk merenung di ruang tamu rumahnya. simboknya yang dari tadi menunggu langsung bertanya.

“seko ngendi le, kok sue temen nang sawah?” 

“iya, gak popo Mbok, mau ketemu konco nang sawah”

“oh… simbok kuatir le, kok ora koyo biasane…”

 Simboknya kembali ke dapur. Kosim bingung mau menceritakan kejadian ini sama siapa. Dia tahu, dia akan dituduh sebagai pembual, kalaupun ada yang percaya, Kosim takut cerita itu akan menyesatkan.

Tapi kini Kosim sadar, Tuhan telah menujukan kuasanya, keraguannya pada Tuhan telah terjawab. 

Tidak seperti uang – kadang ada dan sering tiada saat dia benar-benar membutuhkannya. Kemudia, Kosim pergi ke sumur, membuka tutup padasan (gentong tempat menyimpan air) yang terbuat dari potongan sandal Swalow, wudlu, dan melakukan shalat sunah dua rakaat.

Kejadian itu sudah lama terjadi, tapi Kosim masih sangat mengingatnya. Setiap kali ia kesawah, melewati pohon beringin dan kuburan tua itu.

0 komentar:

Post a Comment